
Tahun “Yobel” dalam tradisi Yahudi adalah Tahun kelimapuluh dan pelaksanaannya berdekatan dengan perayaan Tahun Perdamaian. Tahun Yobel identik dengan pembebasan para budak, dan pembebasan hutang (Bdk. Imamat, 25). Pada Tahun 1470 Paus Paulus II mengubahnya menjadi perayaan setiap 25 tahun meskipun Paus dapat mengadakan Tahun Yubileum Luar Biasa, seperti pada Tahun Kerahiman 2016. Dalam tradisi Katolik, Tahun Yubileum merupakan waktu untuk pembaruan spiritual, penebusan dosa, dan perbuatan amal kasih.
Mengapa harapan tidak pernah mengecewakan? Karena harapan menawarkan kepastian akan kasih Tuhan. Harapan akan menjadi teman perjalanan bagi umat beriman untuk berjumpa dengan Kasih Tuhan dalam perjuangan kehidupan sehari-hari. Kita juga diundang untuk mewujudkan harapan itu kepada saudara/i kita yang membutuhkan pertolongan. Paus Fransiskus mengajak: “Kita harus menyelidiki tanda-tanda zaman dan menanggapi persoalan yang ada sebagai tanda-tanda harapan yang harus diperjuangkan”.
PENGHARAPAN itu sudah ada dalam diri kita, sedang kita hayati, dan masih kita usahakan kepenuhannya (Ignatius Kardinal Suharyo).
Ziarah menjadi unsur mendasar dalam setiap Tahun Yubileum. Ziarah atau sebuah perjalanan secara tradisional dikaitkan dengan pencarian manusia akan makna hidup. Ziarah dengan berjalan kaki sangat mendukung penemuan kembali nilai keheningan, dan kesederhanaan hidup.
Indulgensi adalah penghapusan hukuman-hukuman sementara untuk dosa-dosa yang kesalahannya sudah diampuni melalui Sakramen Rekonsiliasi (bdk. KGK 1471, KHK 993). Indulgensi merupakan sarana untuk menemukan kembali sifat tak terbatas dari kerahiman Allah; sebagai ungkapan kepenuhan pengampunan Allah, yang tidak mengenal batas (bdk. SNC, 23).
Para Uskup selama Tahun Yubileum, dalam perayaan di Katedral atau gereja-gereja dapat memberikan Berkat Apostolik dengan Indulgensi Penuh. Semua Imam dihimbau menawarkan ketersediaan dan pengabdian yang tulus untuk sebanyak mungkin umat beriman menerima Sakramen Rekonsiliasi.
"Indulgensi dari Bapa yang melalui Mempelai Kristus, yaitu Gereja Nya, menjangkau pendosa yang diampuni dan membebaskan mereka dari residu akibat dosa" (Spes non confundit, 23).
Luce (Italia: 'Cahaya') adalah maskot resmi dari Yubileum 2025. Ia mewakili seorang peziarah Katolik. Ia memiliki rambut biru dan mengenakan jaket hujan kuning, yang mengacu pada bendera Vatikan. Luce dkk adalah simbol ‘perjalanan melalui badai kehidupan’. Ia membawa tongkat, yang bermakna ‘ziarah menuju keabadian’. Ia memakai sepatu bot berlumuran lumpur untuk melambangkan ‘perjalanan yang panjang dan sulit’. Matanya yang bersinar digambarkan sebagai ‘simbol harapan hati’. Ia juga memakai rosario. 4 warna jas hujan dari Luce, Fe, Xin dan Sky melambangkan semua manusia dari 4 penjuru dunia.

Logo Tahun Yubileum 2025 dirancang oleh Giacomo Travisani dari Italia. Persatuan dan kemenangan Empat sosok yang memegang salib mewakili umat manusia dari empat penjuru bumi yang berpelukan, melambangkan kesetiakawanan dan persaudaraan. Harapan Jangkar yang terbentuk dari bagian bawah salib yang memanjang menjadi simbol harapan di tengah tantangan hidup. Jangkar merupakan metafora harapan, seperti jangkar cadangan yang digunakan kapal-kapal dalam keadaan darurat. Perjalanan peziarah yang komunal, Perjalanan peziarah tidak bersifat perorangan, melainkan komunal, dengan tanda-tanda dinamis yang semakin berkembang menuju salib. Salib yang dinamis Salib yang membungkuk ke arah umat manusia menyiratkan bahwa umat manusia tidak ditinggalkan sendirian.